A. Pengertian
Tunanetra adalah suatu kerusakan pada penglihatan yaitu “mata” dalam hal
ini sangat menghambat pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah. Namun
penyandang tuna netra masih bisa memaksimalkan berbagai indera yang lain untuk kegiatan
belajar maupun aktivitas sehari-hari. Anak yang menyandang tunanetra harus
mendapatkan pendidikan yang khusus yaitu dengan menyekolahkannya di SLB-A yaitu
sekolah luar biasa khusus penyandang tunanetra.
B.
Faktor penyebab hambatan penglihatan
1.
Pre-natal
a. Keturunan
Ketunanetraan yang disebabkan oleh
faktor keturunan yang dapat terjadi karena perkawinan gen yang sama, perkawinan
sesama penyandang tuna netra, atau bahkan mempunyai orang tua yang merupakan
penyandang tuna netra.
b. Pertumbuhan
anak dalam kandungan
Ketunanetraan terjadi karena proses
pertumbukan dalam kandungan yang kurang baik, yang disebabkan oleh beberapa
faktor ; 1) Keracunan obat atau alcohol; 2) Terkena virus Torch, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada mata, telinga,
jantung dan sistem susunan saraf pusat pada janin yang sedang berkembang; 3)
penyakit menahun seperti TBC, sehingga merusak sel-sel tertentu selama janin
dalam kandungan; 4) Kurangnya vitamin tertentu, yang dapat menyebabkan gangguan
pada mata sehingga hilangnya fungsi penglihatan.
2.
Natal
Faktor penyebab ini terjadi pada
masa sebelum dan sesaat setelah melahirkan akibat dari benturan benda atau alat
keras sehingga dapat merusak saraf mata pada waktu persalinan.
3.
Pasca-natal
a.
Kecelakan yang menyebabkan rusaknya saraf penglihatan
akibat masuknya benda keras atau tajam, masuknya cairan kimia yang berbahaya,
dan kecelakaan kendaraan.
b.
Terkena suatu penyakit ;
1)
Xeropthalmia yaitu
penyakit mata karena kekuranga vitamin A;
2)
Trachoma yaitu
penyakit mata karena virus Chilimidezoon
trachomanis.
3)
Catarac yaitu
penyakit mata yang menyerang bola mata sehingga lensa menjadi keruh “buram”,
akibatnya terlihat dari luar mata menjadi putih.
4)
Glaucoma yaitu
penyakit mata karena bertambahnya cairan dalam bola mata, sehingga tekanan pada
bola mata meningkat.
5)
Diabetik
Retinopathy yaitu gangguan pada retina yang disebabkan karena
kelebihan gula darah.
6)
Macular
Degeneration yaitu kondisi umum yang agak baik, dimana daerah
tengah dari retina secara berangsur memburuk.
7)
Retinopathy
of Prematurity yaitu biasanya anak yang mengalami penyakit ini
disebabkan karena lahir yang prematur.
C.
Dampak
Ketunanetraan
a. Dampak
terhadap Kognisi
Individu
tunanetra menyandang kelainan dalam struktur fisiologisnya, dan mereka harus
menggantikan fungsi indera penglihatan dengan indera-indera lainnya untuk
mempersepsi lingkungannya. Banyak di antara mereka tidak pernah mempunyai
pengalaman visual, sehingga konsepsi orang awas mereka tentang dunia ini sejauh
mungkin berbeda dari konsepsi orang awas pada umumnya.
b. Dampak
terhadap Keterampilaan Sosial
Peran orang
tua sangat penting dalam perkemabangan anak tunanetra. Akibat ketunaan yang
dialami tidak jarang orang tua merasa malu dan tidak menerima keadaan yang
dialami oleh sang anak. Tidak jarang hal ini sering menimbulkan permasalahan
pada kedua orang tuanya, dan bisa memicu perceraian. Namun jika kedua orang ua
bisa saling menerima keadaan sang anak itu bisa berdampak baik pada
perkembangan si anak sendiri.
c. Dampak
terhadap Orientasi dan Mobilitas
Ketrampilan
mobilitas ini sangat terkait dengan kemampuan orientasi, yaitu kemampuan untuk
memahami hubungan lokasi antara satu obyek dengan obyek lainnya di dalam
lingkungan. Agar anak tuna netra memiliki rasa percaya diri untuk bergerak
secara leluasa di dalam lingkungannya bersosialisasi, mereka harus memperoleh
latihan orientasi dan mobilitas.
D. Fungsi Panca Indra Bagi Anak Tunanetra
Seorang yang kehilangan penglihatan , biasanya pendengaran dan perabaan
akan menjadi sarana alternatif yang digunakan untuk melakukan pengenalan
terhadap lingkungan sekitarnya. Kelebihan indra pendengaran sebagai transmisi
dalam berinteraksi dengan lingkungan bqgi qnqk tunanetra dapat membantu
memberikan petunjuk tentang jarak atau arah objek dengan mengenal suaranya.
Oleh karena itu, tidak heran jika pengertian anak tunanetra terhadap benda atu
objek yang dikenalinya cenderung bersifat verbalistis, yakni pengenalan sebatas
kata-kata atau suara tanpa memahami makna atau hakikat benda atau objek yang
dikenalinya.
Urgensi perbaan bagi anak tunanetra dapat memberikan gambaran secara
konkret mengenai ukuran, posisi, temperatur, berat dan bentuk, disamping itu
juga berguna sebagai pengganti mata dalam kegiatan membaca tulisan yang
menggunakan huruf Braille. Oleh karena itu, Kondisi jari-jari tangan disamping
dijaga dari hal-hal dapat mengganggu sensivitasnya juga dibantu dengan latihan
yang intensif untuk meningkatkan kepekaan hasil rabaan terhadap titik-titik
timbul yang menjadi formasi huruf pada tulisan Braille.
E. Kondisi Kecerdasan Anak Tunanetra
Heyes,
seorang ahli pendidikan anak tunanetra telah melakukan penelitian terhadap
kondisi kecerdasan anak tunanetra. Kesimpulan hasil penelitiannya sebagai
berikut :
a.
Ketuanetraan tidak secara otomatis mengakibatkan
kecerdasan rendah.
b.
Mulainya ketunanetraan tidak mempengaruhi tingkat
kecerdasan
c.
Anak tunanetra ternyata banyak yang berhasil mencapai
prestasi intelektual yang baik, apabila lingkungan memberikan kesempatan dan
motifasi kepada anak tunanetra untuk berkembang.
·
Penyandang ketunanetraan tidak menunjukan kelemahan
dalam intelegensi verbal. Cruickshank pada tahun 1980 menjelaskan bahwa
aplikasi terhadap struktur kecakapan anak tunanetra yang dapat digunakan
sebagai dasar untuk mengkomparasikan dengan anak normal, antara lain sebagai
berikut :
a.
Anak tunanetra menerima pengalaman nyata yang sama
dengan anak normal, dari pengalamannya tersebut kemudian diintegrasikan kedalam
pengertiannya sendiri
b.
Anak tunanetra cenderung menggunakan pendekatan
konseptual yang abstrak menuju ke konkret, kemudian menuju fungsional serta
terhadap konsekuensinya, sedangkan pada anak normal yang terjadi sebaliknya.
c.
Anak tunanetra perbendaharaannya kata-katanya terbatas
pada definisi kata.
d.
Anak tunanetra tidak dapat membandingkan terutama
dalam hal kecakapan numerik.
·
Masih dalam konteks yang sama, Lowenveld menyebutkan
bahwa keterlambatan tersebut terjadi karena terbatasnya hal-hal berikut :
a.
Tingkat variasi dan pengalaman yang diperoleh anak
tunanetra.
b.
Kemampuan untuk memperolehnya.
c.
Kontrol dari lingkungan dan dari anak tunanetra
sendiri dalam hubungan antara keduanya.
F.
Alat pendidikan
1. Alat
pendidikan khusus anak tunanetra antara lain:
Reglet dan pena, mesin tik Braille, computer dengan
program Braille, printer Braille, abacus, calculator bicara,kertas
braille, penggaris Braille, kompas bicara.
2. Alat Bantu
Alat bantu pendidikan bagi anak tunanetra sebaiknya
menggunakan materi perabaan dan pendengaran.
a. Alat bantu
perabaan sebagai sumber belajar menggunakan buku-buku dengan huruf Braille.
b. Alat bantu
pendengaran sebagai sumber belajar diantaranya talking books (buku bicara),
kaset (suara binatang), CD, kamus bicara.
3. Alat Peraga
Alat peraga tactual atau audio yaitu alat peraga yang
dapat diamati melalui perabaan atau pendengaran. Alat peraga tersebut antara
lain:
a. benda asli :
makanan, minuman, binatang peliharaan (kucing, ayam, ikan hias, dll) tubuh anak
itu sendiri, tumbuhan/tanaman, elektronik, kaset, dll.
b. benda asli
yang diawetkan : binatang liar/buas atau yang sulit di dapatkan,
c. benda asli
yang dikeringkan (herbarium, insektarium)
d. benda/model
tiruan; model kerangka manusia, model alat pernafasan, dll.
e. gambar
timbul sesuai dengan bentuk asli; grafik, diagram dll.
f. Gambar
timbul skematik; rangkaian listrik, denah, dll.
g. Peta timbul;
provinsi, pulau, negara, daratan, benua, dll.
h. Globe
timbul.
i.
Papan baca.
j.
Papan paku.
G.
Model Pendidikan
1. Pendidikan
Khusus (SLB)
SLB adalah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan
program pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
a.
Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunanetra; yaitu sekolah yang
hanya memberikan pelayanan pendidikan kepada anak tunanetra.
b. Sekolah
Dasar Luar Biasa; yaitu sekolah yang menyelenggarakan pendidikan khusus, dengan
bermacam jenis kelainan yaitu tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa.
2. Pendidikan
Terpadu
Pendidikan Terpadu ialah model penyelenggaraan program
pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus yang diselenggarakan bersama-sama
dengan anak normal dalam satuan pendidikan yang bersangkutan di sekolah reguler
(SD,SMP, SMA dan SMK) dengan menggunakan kurikulum yang berlaku di lembaga
pendidikan yang bersangkutan (Kepmendikbud No. 002/U/1986). Dalam pendidikan
terpadu harus disiapkan:
a.
Seorang guru Pembimbing Khusus (Guru PLB)
b.
Sebuah ruangan khusus yang dilengkapi dengan alat
pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus . Ruangan khusus ini dibuat
dengan tujuan apabila anak yang berkebutuhan khusus tersebut mengalami
kesulitan di dalam kelas, maka ia dibawa ke ruang khusus untuk diberi pelayanan
dan bimbingan oleh guru Pembimbing Khusus.
3. Guru Kunjung
Di dalam sistem Pendidikan Luar Biasa terdapat sebuah
model pelayanan pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus yaitu dengan
model Guru Kunjung. Model guru kunjung ini dilakukan dalam upaya pemerataan
pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus usia sekolah. Oleh karena sesuatu
hal, anak tsb tidak dapat belajar di sekolah khusus atau sekolah lainnya.
Pelayanan pendidikan dengan model guru kunjung ini
bisa dilaksanakan di beberapa tempat, diantaranya;
a.
Rumah anak tunanetra sendiri.
b.
Pada sebuah tempat yang dapat menampung beberapa anak
tunanetra
c.
Rumah sakit
b.
Kurikulum yang digunakan pada model guru kunjung
adalah kurikulum PLB, kemudian dikembangkan kepada program pendidikan
individual yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing anak.
4. Pendidikan
Inklusif
Pendidikan
inklusif adalah pendidikan reguler yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang
memerlukan pendidikan khusus pada sekolah reguler dalam satu kesatuan yang
sistemik.
Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 0491/U/1992, anak-anak yang memiliki
kebutuhan khusus seperti tunanetra dapat belajar secara terpadu dengan anak
sebaya lainnya dalam satu sistem pendidikan yang sama. Layanan pendidikan di
dalam pendidikan inklusif memperhatikan:
a. Kebutuhan
dan kemampuan siswa
b. Satu sekolah
untuk semua
c. Tempat
pembelajaran yang sama bagi semua siswa
d. Pembelajaran
didasarkan kepada hasil assessment
e. Tersedianya
aksesibilitas yang sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga siswa merasa aman
dan nyaman.
f. Lingkungan
kelas yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Kurikulum yang digunakan adalah
kurikulum yang fleksibel, yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan
setiap siswa.
Essay
1.
Menurut anda apa yang di maksud dengan
tunanetra dan apa faktor penyebab terjadinya ketunanetraan?
2.
Menurut anda apa saja yang menjadi dampak dari
ketunanetraan berilakan alasan anda!
3.
Anak dengan hambatan penglihatan berhak juga
mendapatkan pendidikan yang layak. Lembaga pendidikan apa saja yang dapat
memberikan pendidikan bagi penyandang tunanetra?
4.
Menurut anda alat apa saja yang dibutuhkan oleh
penyandang tunanetra dalam proses pembelajarannya?
5.
Menurut anda bagaimanakah kecerdasan anak penyandang
tunanetra? Berikan alasan anda !
Daftar Pustaka
Susilawati.
2015. Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus.
Cirebon:CV. CONVIDENT
Kosasih,
E. 2012. Cara bijak memahami anak
berkebutuhan khusus. Bandung: Yrama Widya.
http//:wahidah_devon.Anakberkebutuhan/Khusus/Tunanetra.com