Minggu, 13 Desember 2015

Tuna Netra


 
A.    Pengertian
Tunanetra adalah suatu kerusakan pada penglihatan yaitu “mata” dalam hal ini sangat menghambat pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah. Namun penyandang tuna netra masih bisa memaksimalkan berbagai indera yang lain untuk kegiatan belajar maupun aktivitas sehari-hari. Anak yang menyandang tunanetra harus mendapatkan pendidikan yang khusus yaitu dengan menyekolahkannya di SLB-A yaitu sekolah luar biasa khusus penyandang tunanetra.

B.     Faktor penyebab hambatan penglihatan
1.       Pre-natal
a.       Keturunan
Ketunanetraan yang disebabkan oleh faktor keturunan yang dapat terjadi karena perkawinan gen yang sama, perkawinan sesama penyandang tuna netra, atau bahkan mempunyai orang tua yang merupakan penyandang tuna netra.
b.      Pertumbuhan anak dalam kandungan
Ketunanetraan terjadi karena proses pertumbukan dalam kandungan yang kurang baik, yang disebabkan oleh beberapa faktor ; 1) Keracunan obat atau alcohol; 2) Terkena virus Torch, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada mata, telinga, jantung dan sistem susunan saraf pusat pada janin yang sedang berkembang; 3) penyakit menahun seperti TBC, sehingga merusak sel-sel tertentu selama janin dalam kandungan; 4) Kurangnya vitamin tertentu, yang dapat menyebabkan gangguan pada mata sehingga hilangnya fungsi penglihatan.
2.       Natal
Faktor penyebab ini terjadi pada masa sebelum dan sesaat setelah melahirkan akibat dari benturan benda atau alat keras sehingga dapat merusak saraf mata pada waktu persalinan.
3.       Pasca-natal
a.       Kecelakan yang menyebabkan rusaknya saraf penglihatan akibat masuknya benda keras atau tajam, masuknya cairan kimia yang berbahaya, dan kecelakaan kendaraan.
b.      Terkena suatu penyakit ;
1)      Xeropthalmia yaitu penyakit mata karena kekuranga vitamin A;
2)      Trachoma yaitu penyakit mata karena virus Chilimidezoon trachomanis.
3)      Catarac yaitu penyakit mata yang menyerang bola mata sehingga lensa menjadi keruh “buram”, akibatnya terlihat dari luar mata menjadi putih.
4)      Glaucoma yaitu penyakit mata karena bertambahnya cairan dalam bola mata, sehingga tekanan pada bola mata meningkat.
5)      Diabetik Retinopathy yaitu gangguan pada retina yang disebabkan karena kelebihan gula darah.
6)      Macular Degeneration yaitu kondisi umum yang agak baik, dimana daerah tengah dari retina secara berangsur memburuk.
7)      Retinopathy of Prematurity yaitu biasanya anak yang mengalami penyakit ini disebabkan karena lahir yang prematur.

C.    Dampak Ketunanetraan

a.       Dampak terhadap Kognisi
Individu tunanetra menyandang kelainan dalam struktur fisiologisnya, dan mereka harus menggantikan fungsi indera penglihatan dengan indera-indera lainnya untuk mempersepsi lingkungannya. Banyak di antara mereka tidak pernah mempunyai pengalaman visual, sehingga konsepsi orang awas mereka tentang dunia ini sejauh mungkin berbeda dari konsepsi orang awas pada umumnya.

b.      Dampak terhadap Keterampilaan Sosial
Peran orang tua sangat penting dalam perkemabangan anak tunanetra. Akibat ketunaan yang dialami tidak jarang orang tua merasa malu dan tidak menerima keadaan yang dialami oleh sang anak. Tidak jarang hal ini sering menimbulkan permasalahan pada kedua orang tuanya, dan bisa memicu perceraian. Namun jika kedua orang ua bisa saling menerima keadaan sang anak itu bisa berdampak baik pada perkembangan si anak sendiri.

c.       Dampak terhadap Orientasi dan Mobilitas
Ketrampilan mobilitas ini sangat terkait dengan kemampuan orientasi, yaitu kemampuan untuk memahami hubungan lokasi antara satu obyek dengan obyek lainnya di dalam lingkungan. Agar anak tuna netra memiliki rasa percaya diri untuk bergerak secara leluasa di dalam lingkungannya bersosialisasi, mereka harus memperoleh latihan orientasi dan mobilitas.

D.    Fungsi Panca Indra Bagi Anak Tunanetra

Seorang yang kehilangan penglihatan , biasanya pendengaran dan perabaan akan menjadi sarana alternatif yang digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap lingkungan sekitarnya. Kelebihan indra pendengaran sebagai transmisi dalam berinteraksi dengan lingkungan bqgi qnqk tunanetra dapat membantu memberikan petunjuk tentang jarak atau arah objek dengan mengenal suaranya. Oleh karena itu, tidak heran jika pengertian anak tunanetra terhadap benda atu objek yang dikenalinya cenderung bersifat verbalistis, yakni pengenalan sebatas kata-kata atau suara tanpa memahami makna atau hakikat benda atau objek yang dikenalinya.

Urgensi perbaan bagi anak tunanetra dapat memberikan gambaran secara konkret mengenai ukuran, posisi, temperatur, berat dan bentuk, disamping itu juga berguna sebagai pengganti mata dalam kegiatan membaca tulisan yang menggunakan huruf Braille. Oleh karena itu, Kondisi jari-jari tangan disamping dijaga dari hal-hal dapat mengganggu sensivitasnya juga dibantu dengan latihan yang intensif untuk meningkatkan kepekaan hasil rabaan terhadap titik-titik timbul yang menjadi formasi huruf pada tulisan Braille.

E.     Kondisi Kecerdasan Anak Tunanetra

Heyes, seorang ahli pendidikan anak tunanetra telah melakukan penelitian terhadap kondisi kecerdasan anak tunanetra. Kesimpulan hasil penelitiannya sebagai berikut :
a.       Ketuanetraan tidak secara otomatis mengakibatkan kecerdasan rendah.
b.      Mulainya ketunanetraan tidak mempengaruhi tingkat kecerdasan
c.       Anak tunanetra ternyata banyak yang berhasil mencapai prestasi intelektual yang baik, apabila lingkungan memberikan kesempatan dan motifasi kepada anak tunanetra untuk berkembang.
·         Penyandang ketunanetraan tidak menunjukan kelemahan dalam intelegensi verbal. Cruickshank pada tahun 1980 menjelaskan bahwa aplikasi terhadap struktur kecakapan anak tunanetra  yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mengkomparasikan dengan anak normal, antara lain sebagai berikut :
a.       Anak tunanetra menerima pengalaman nyata yang sama dengan anak normal, dari pengalamannya tersebut kemudian diintegrasikan kedalam pengertiannya sendiri
b.      Anak tunanetra cenderung menggunakan pendekatan konseptual yang abstrak menuju ke konkret, kemudian menuju fungsional serta terhadap konsekuensinya, sedangkan pada anak normal yang terjadi sebaliknya.
c.       Anak tunanetra perbendaharaannya kata-katanya terbatas pada definisi kata.
d.      Anak tunanetra tidak dapat membandingkan terutama dalam hal kecakapan numerik.
·         Masih dalam konteks yang sama, Lowenveld menyebutkan bahwa keterlambatan tersebut terjadi karena terbatasnya hal-hal berikut :
a.       Tingkat variasi dan pengalaman yang diperoleh anak tunanetra.
b.      Kemampuan untuk memperolehnya.
c.       Kontrol dari lingkungan dan dari anak tunanetra sendiri dalam hubungan antara keduanya.

F.      Alat pendidikan

1.      Alat pendidikan khusus anak tunanetra antara lain:
Reglet dan pena, mesin tik Braille, computer dengan program Braille, printer Braille,  abacus, calculator bicara,kertas braille, penggaris Braille, kompas bicara.
2.      Alat Bantu
Alat bantu pendidikan bagi anak tunanetra sebaiknya menggunakan materi perabaan dan pendengaran.
a.       Alat bantu perabaan sebagai sumber belajar menggunakan buku-buku dengan huruf Braille.
b.      Alat bantu pendengaran sebagai sumber belajar diantaranya talking books (buku bicara), kaset (suara binatang), CD, kamus bicara.
3.      Alat Peraga
Alat peraga tactual atau audio yaitu alat peraga yang dapat diamati melalui perabaan atau pendengaran. Alat peraga tersebut antara lain:
a.       benda asli : makanan, minuman, binatang peliharaan (kucing, ayam, ikan hias, dll) tubuh anak itu sendiri, tumbuhan/tanaman, elektronik, kaset, dll.
b.      benda asli yang diawetkan : binatang liar/buas atau yang sulit di dapatkan,
c.       benda asli yang dikeringkan (herbarium, insektarium)
d.      benda/model tiruan; model kerangka manusia, model alat pernafasan, dll.
e.       gambar timbul sesuai dengan bentuk asli; grafik, diagram dll.
f.       Gambar timbul skematik; rangkaian listrik, denah, dll.
g.      Peta timbul; provinsi, pulau, negara, daratan, benua, dll.
h.      Globe timbul.
i.        Papan baca.
j.        Papan paku.

G.    Model Pendidikan
1.      Pendidikan Khusus (SLB)
SLB adalah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
a.       Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunanetra; yaitu sekolah yang hanya memberikan pelayanan pendidikan kepada anak tunanetra.
b.      Sekolah Dasar Luar Biasa; yaitu sekolah yang menyelenggarakan pendidikan khusus, dengan bermacam jenis kelainan yaitu tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa.
2.      Pendidikan Terpadu
Pendidikan Terpadu ialah model penyelenggaraan program pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus yang diselenggarakan bersama-sama dengan anak normal dalam satuan pendidikan yang bersangkutan di sekolah reguler (SD,SMP, SMA dan SMK) dengan menggunakan kurikulum yang berlaku di lembaga pendidikan yang bersangkutan (Kepmendikbud No. 002/U/1986). Dalam pendidikan terpadu harus disiapkan:
a.       Seorang guru Pembimbing Khusus (Guru PLB)
b.      Sebuah ruangan khusus yang dilengkapi dengan alat pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus . Ruangan khusus ini dibuat dengan tujuan apabila anak yang berkebutuhan khusus tersebut mengalami kesulitan di dalam kelas, maka ia dibawa ke ruang khusus untuk diberi pelayanan dan bimbingan oleh guru Pembimbing Khusus.
3.      Guru Kunjung
Di dalam sistem Pendidikan Luar Biasa terdapat sebuah model pelayanan pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus yaitu dengan model Guru Kunjung. Model guru kunjung ini dilakukan dalam upaya pemerataan pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus usia sekolah. Oleh karena sesuatu hal, anak tsb tidak dapat belajar di sekolah khusus atau sekolah lainnya.
Pelayanan pendidikan dengan model guru kunjung ini bisa dilaksanakan di beberapa tempat, diantaranya;
a.       Rumah anak tunanetra sendiri.
b.      Pada sebuah tempat yang dapat menampung beberapa anak tunanetra
c.       Rumah sakit
b.      Kurikulum yang digunakan pada model guru kunjung adalah kurikulum PLB, kemudian dikembangkan kepada program pendidikan individual yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing anak.
4.      Pendidikan Inklusif
                       Pendidikan inklusif adalah pendidikan reguler yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang memerlukan pendidikan khusus pada sekolah reguler dalam satu kesatuan yang sistemik.
Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 0491/U/1992, anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus seperti tunanetra dapat belajar secara terpadu dengan anak sebaya lainnya dalam satu sistem pendidikan yang sama. Layanan pendidikan di dalam pendidikan inklusif memperhatikan:
a.       Kebutuhan dan kemampuan siswa
b.      Satu sekolah untuk semua
c.       Tempat pembelajaran yang sama bagi semua siswa
d.      Pembelajaran didasarkan kepada hasil assessment
e.       Tersedianya aksesibilitas yang sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga siswa merasa aman dan nyaman.
f.       Lingkungan kelas yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum yang fleksibel, yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa.


Essay
1.      Menurut anda apa yang di maksud dengan tunanetra dan apa faktor penyebab terjadinya ketunanetraan?
2.      Menurut anda apa saja yang menjadi dampak dari ketunanetraan berilakan alasan anda!
3.      Anak dengan hambatan penglihatan berhak juga mendapatkan pendidikan yang layak. Lembaga pendidikan apa saja yang dapat memberikan pendidikan bagi penyandang tunanetra?
4.      Menurut anda alat apa saja yang dibutuhkan oleh penyandang tunanetra dalam proses pembelajarannya?
5.      Menurut anda bagaimanakah kecerdasan anak penyandang tunanetra? Berikan alasan anda !

Daftar Pustaka

Susilawati. 2015. Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus. Cirebon:CV. CONVIDENT
Kosasih, E. 2012. Cara bijak memahami anak berkebutuhan khusus. Bandung: Yrama Widya.
http//:wahidah_devon.Anakberkebutuhan/Khusus/Tunanetra.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Study My Life FTA